Sabtu, 13 September 2014



Al-Hasan al-Bashri Rahimahullah berkata, "Ada seorang wanita jalang yang kecantikannya melebihi wanita-wanita seusianya. Dia akan menyerahkan dirinya bila dibayar dengan 100 dinar (425 gram emas). Kemudian ada seorang pria yang melihatnya. Dia merasa kagum dan menginginkan si wanita tadi. Lalu si pria pergi dan bekerja keras membanting tulang dengan tangannya sendiri, sampai akhirnya dia berhasil mengumpulkan uang 100 dinar. Kemudian dia mendatangi si wanita dan berkata kepadanya, "Sungguh engkau telah membuatku kagum, kemudian aku pergi dan bekerja membanting tulang hingga berhasil mengumpulkan 100 dinar."

Si wanita berkata, "Bayarkanlah uang itu pada kepala pelayan agar dicek keaslian dan ditimbang beratnya." Setelah dibayarkan si wanita berkata lagi, "Masuklah." Si wanita itu mempunyai rumah yang dihias dengan indah dan ranjang dari emas. Ketika sudah masuk, "Ayolah," ajak si wanita. Si pria pun bersiap untuk melaksanakan hasratnya, namun saat itu pula dia ingat bagaimana nanti dia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tubuhnya jadi gemetar dan syahwatnya langsung hilang. Maka dia batalkan niatnya dan berkata, "Biarkanlah aku keluar dan pergi dan uang 100 dinar itu ambil saja untukmu!"

Dengan penuh perasaan heran si wanita bertanya, "Ada apa denganmu? Kau telah mengaku pernah melihatku dan kagum padaku serta menginginkan diriku. Kemudian engkau pergi bekerja membanting tulang hingga mengumpulkan 100 dinar, dan setelah engkau bisa mendapatkan aku, kamu kok jadi begini?" Si Pria menjawab, "Tidak ada yang mendorongku dalam hal ini selain rasa takutku kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aku membayangkan bagaimana saat nanti aku akan berdiri di hadapan-Nya mempertanggungjawabkan perbuatanku." Si wanita berkata, "Bila engkau benar demikian, maka tidak ada yang berhak menjadi suamiku selain engkau." Tetapi si pria menanggapinya dengan berkata, "Biarkan aku pergi saja." Si wanita berkata, "Boleh, tetapi kau harus berjanji, bahwa nanti kau akan mengawiniku." Si pria berkata lagi, "Tidak ada janji sampai aku keluar." Si wanita tetap teguh memaksa, "Engkau harus berjanji, demi Allah, bila nanti aku datang kepadamu engkau harus mengawiniku." "Ya, mungkin," jawabnya singkat.

Lalu dia mengenakan pakaiannya kemudian terus pergi menuju negerinya. Dan si wanita pun berangkat meninggalkan dunia hitamnya dengan penuh penyesalan atas segala yang diperbuatnya. Sampai akhirnya ia tiba di negeri si pria itu. Lalu dia bertanya pada orang-orang di sana tentang nama dan alamat si pria itu. Orang-orang berkomentar, "Sekarang ini, sang ratu cantik itu datang sendiri bertanya tentang engkau."

Saat si pria melihatnya, dia terkejut, kemudian kejang lalu mati dan jatuh di hadapan wanita itu. Maka si wanita berkata, "Aku sudah tidak mungkin mendapatkan orang yang satu ini, tapi apakah ia punya seorang kerabat?" Orang-orang menjawab, "Ya, ada, dia punya saudara laki-laki yang miskin."

Si wanita tadi akhirnya berkata pada saudara laki-lakinya, "Aku ingin menikah denganmu, karena aku cinta pada saudaramu". Akhirnya keduanya menikah dan dikaruniai tujuh orang anak."

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Cerita Islami: Meninggalkan yang Haram Demi yang Halal

Meraih Surga dengan Meninggalkan Dengki

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Saat kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata, 'Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga'. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang datang dengan bekas air wudhu masih mengalir di jenggotnya, dan tangan kirinya memegang terompahnya."

"Keesokan hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan seperti perkataannya yang kemarin. Lalu muncullah laki-laki itu lagi, persis seperti kedatangannya pertama kali. Di hari ketiga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata demikian lagi, dan kembali yang datang adalah laki-laki itu lagi persis kejadian pertama. Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beranjak, Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash membuntuti laki-laki itu sampai ke rumahnya. Lalu Abdullah berkata kepadanya, 'Aku telah bertengkar dengan ayahku, kemudian aku bersumpah untuk tidak mendatanginya selama tiga hari. Bila kau mengizinkan, aku ingin tinggal bersamamu selama tiga hari'. Dia menjawab, 'Ya, boleh'."

Anas berkata, "Abdullah menceritakan bahwa ia telah menginap di tempat laki-laki itu selama tiga hari. Dia melihat orang itu sama sekali tidak bangun malam (tahajjud). Hanya saja, setiap kali dia terjaga dan menggeliat di atas ranjangnya, dia selalu membaca zikir dan takbir sampai ia bangun untuk salat subuh. Selain itu--kata Abdullah--aku tidak pernah mendengarnya berbicara kecuali yang baik-baik."

"Setelah tiga malam berlalu dan hampir saja aku menyepelekan amalnya, aku terusik untuk bertanya, 'Wahai hamba Allah, sesungguhnya tidak pernah terjadi pertengkaran dan tak saling menyapa antara aku dan ayahku, aku hanya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata tentang dirimu tiga kali, bahwa akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga, dan sebanyak tiga kali itu kaulah yang datang. Maka, aku pun ingin bersamamu agar aku bisa melihat apakah amalanmu itu dan nanti akan aku tiru. Tetapi, ternyata kau tidak terlalu banyak beramal. Apakah sebenarnya yang membuatmu bisa mencapai apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam'. Maka dia menjawab, 'Aku tidak mempunyai amal kecuali yang telah engkau lihat sendiri'.

"Ketika aku hendak pulang, dia memanggilku, lalu berkata, 'Benar amalku hanya yang kau lihat, hanya saja aku tidak mendapati pada diriku sifat curang terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Aku juga tidak iri pada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah Subhaanahu wa Ta'ala kepadanya'. Maka Abdullah bin 'Amr berkata, 'Inilah amal yang telah mengangkatmu pada derajat yang tinggi dan inilah yang berat kami lakukan'."

Sumber: Musnad Ahmad 3/166

Al-Islam - Pusat Infomasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Cerita Islami: Meraih Surga dengan Meninggalkan Dengki

Satu Dirham Membuahkan Seratus Dua Puluh Ribu Dirham

Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Seorang laki-laki bercerita kepadaku: 'Ada seorang laki-laki yang keluar rumah membawa benang tenun, lalu ia menjualnya seharga satu dirham yang rencananya untuk membeli tepung. Ketika pulang ia melewati dua orang lelaki yang saling menjambak rambut dan kepala kawannya. Ia lalu bertanya, 'Ada apa?' Orang-orang pun memberi tahunya bahwa keduanya bertengkar karena memperebutkan uang satu dirham. Maka ia berikan uang satu dirhamnya kepada mereka, dan ia pun tak memiliki uang lagi.

Ia lalu pulang dan menceritakan kejadian itu pada istrinya. Sang istri lalu mengumpulkan beberapa barang rumah tangga yang sekiranya bisa dijual atau digadaikan. Laki-laki itu pun pergi untuk menjual atau menggadaikannya. Tetapi, barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang membawa ikan yang agak menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, "Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah engkau mau menukarnya dengan barang daganganku ini?" Ia pun mengiyakan. Ikan itu pun dibawanya pulang.
"Istriku, segeralah urus ikan ini, kita hampir tak berdaya karena lapar," katanya pada istrinya. Maka sang istri segera mengurus ikan tersebut. Ketika ia membelah perut ikan itu, tiba-tiba sebuah mutiara keluar dari perut ikan tersebut.
Wanita itu berkata gembira, "Suamiku, dari perut ikan ini keluar sesuatu yang lebih kecil dari telur ayam, ia hampir sebesar telur burung dara."
Suaminya berkata, "Perlihatkanlah padaku!" Ternyata ia melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya seumur hidupnya. Pikirannya melayang, hatinya berdebar. Ia lalu berkata pada istrinya, "Saya kira ini adalah mutiara."
Sang istri menyahut, "Tahukah engkau berapa nilai mutiara ini?"
"Tidak, tetapi aku tahu siapa yang pintar dalah hal ini", jawab suaminya. Ia lalu mengambil mutiara itu dan segera pergi ke tempat para penjual mutiara. Ia lalu menghampiri temannya yang ahli di bidang mutiara. Ia mengucapkan salam kepadanya, sang kawan pun menjawab salamnya. Selanjutnya ia berbicara kepadanya seraya mengeluarkan mutiara itu. "Tahukah anda berapa nilai benda ini?" ia bertanya. Kawannya memperhatikan mutiara itu begitu lama, baru kemudian ia berkata, "Aku menghargainya 40 ribu dirham. Jika anda mau, uang itu akan kubayar kontan sekarang juga. Tetapi jika anda ingin harga yang lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, dia akan memberimu harga yang lebih tinggi dariku."

Maka ia pergi kepada orang itu. Orang itu memperhatikan mutiara tersebut dan mengakui keindahannya. Ia kemudian berkata, "Aku menghargai barang ini 80 ribu dirham. Jika anda menginginkan harga yang lebih tinggi, pergilah kepada si Fulan, saya kira ia akan memberi harga yang lebih tinggi dariku."

Dengan bergegas ia pergi pada orang yang dimaksud. Orang itu berkata, "Aku hargai barang ini 120 ribu dirham. Dan saya kita tidak ada orang yang berani menambah sedikit pun dari harga itu." "Ya", ia pun setuju. Lalu mutiara itu ditimbangnya. Maka pada hari itu, lelaki itu pulang dengan membawa dua belas kantong uang dirham. Pada masing-masing kantong terdapat sepuluh ribu dirham. Uang ia bawa pulang dan akan disimpan di rumahnya. Tiba-tiba di pintu rumahnya ada seorang fakir yang meminta-minta. Maka ia berkata, "Saya punya kisah, karena itu masuklah." Orang itu pun masuk. Lalu laki-laki itu berkata, "Ambillah separuh dari hartaku ini." Orang fakir itu lalu mengambil enam kantong uang dan dibawannya pergi. Setelah agak jauh, ia kembali lagi seraya berkata, "Sebenarnya aku bukanlah orang fakir atau miskin, tetapi Allah Subhaanahu wa Ta'ala telah mengutusku kepadamu untuk mengujimu. Dialah yang telah mengganti satu dirhammu dengan 20 qirath. Dan ini yang diberikan-Nya kepadamu baru satu qirath dari semuanya. Dan Dia menyimpan sembilan belas qirath lagi untukmu.

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indoanesia 

Cerita Islami: Satu Dirham Membuahkan Seratus Dua Puluh Ribu Dirham


Diriwayatkan dari Sahal bin Abdillah rahimahullah, bahwa dia mempunyai seorang tetangga yang merupakan orang dzimmiy (orang non-muslim yang tinggal di wilayah Islam, memiliki hak keamanan harta dan jiwa dengan membayar jizyah). Dan dari rumah orang dzimmiy itu ada kebocoran yang menimbulkan tetesan air ke rumah Sahal.

Setiap hari Sahal menampung air bocoran itu di dalam suatu wadah agar tidak menyebar di rumahnya. Jika telah penuh Sahal membuangnya pada malam hari agar tidak dilihat oleh orang. Keadaan itu terus berlangsung lama sampai ketika ajal sudah mendatangi Sahal.

Lalu tetangganya yang dzimiiy Majusi itu datang menjenguknya ketika ia sedang sakit menjelang meninggalnya. Sahal menyuruhnya masuk ke sebuah ruangan di rumahnya agar tetangganya itu melihat apa yang terjadi di dalamnya. Begitu Majusi itu masuk, ia langsung melihat adanya kebocoran dari rumahnya dan airnya menetes ke rumah Sahal. Ia paham, hal ini tentu saja mengganggu Sahal. Ia kemudian bertanya, "Apa sebenarnya yang kulihat ini?"

Sahal berkata, "Hal ini sudah berlangsung lama, air menetes dari rumahmu ke rumahku ini. Dan saya menampungnya di siang hari, kemudian membuangnya pada malam hari. Kalaulah bukan karena ajalku telah tiba, dan aku takut orang lain tidak sanggup menerima keadaan ini, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepadamu. Makanya aku melakukan hal telah kau lihat ini."

Orang Majusi itu berkata: "Wahai Syekh! Engkau telah memperlakukan aku dengan toleransi tinggi seperti ini, sedangkan saya tetap saja memegang kekufuranku. Tolong julurkanlah tangan anda, inilah saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah (Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah). Setelah itu Sahal kemudian meninggal.

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia


Cerita Islami: Tetangga yang Baik

Ada seseorang yang memiliki sebuah pohon kurma yang tumbuh subur, daunnya lebat, dan mayangnya menjuntai sampai ke rumah tetangganya yang miskin, banyak anak lagi. Tetapi, mereka hanya bisa gigit jari melihatnya.

Setiap kali pohon korma itu berbuah, pemiliknya memetik lewat rumah tetangganya yang miskin itu. Bahkan, apabila ada buah korma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak si miskin itu, pemilik korma itu akan merampasnya kembali. Sampai-sampai buah korma yang sudah terlanjur di mulut pun dimintanya kembali.

"Ini kurmaku, kamu tidak berhak memakannya," katanya.

Melihat perlakuan si pemilik korma itu, tetangganya yang miskin itu mengadukan perihalnya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Pengaduan ini diterima oleh Nabi dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menemui pemilik kurma itu seraya berkata, "Berikanlah pohon kurmamu itu kepada tetanggamu yang miskin. Sebagai gantinya, kau akan memperoleh gantinya di surga nanti."

Pemilik kurma itu menjawab, "Cuma itu tawaranmu?" Karena sifat kikirnya, tawaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu ditolaknya. Dengan mencibirkan mulutnya, ia pergi meninggalkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kebetulan pembicaraan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan pemilik kurma yang kikir itu terdengar oleh seorang dermawan. Lelaki itu lalu bergegas menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah tawaran itu berlaku juga bagiku?" tanya lelaki itu. "Ya," jawab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Mendengar hal itu, lelaki itu bergegas menemui pemilik pohon kurma itu. "Tahukah engkau bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan pohon kurma surga sebagai ganti pohon kormamu?
"Ya, aku tahu. Tetapi, aku lebih sayang pada pohon kurmaku ini," ujar lelaki kikir itu.
"Pohon kormamu itu buahnya sungguh lebat, dan tak satu pun pohon kurmaku seperti itu. Apakah engkau mau menjual pohon kurmamu itu?" tanya si dermawan.
"Bisa saja, asal anda dapat memenuhi permintaanku. Aku yakin tak seorang pun sanggup memenuhinya," jawabnya.
"Berapa yang kau inginkan?"
"Empat puluh pohon korma."
"Oho, engkau minta yang tak sebanding. Tapi biarlah, kupenuhi permintaanmu dengan empat puluh pohon korma. Kuminta engkau benar-benar menukarkan pohon korma itu kepadaku," kata laki-laki dermawan itu.
Setelah selesai tukar-menukar pohon kurma, lelaki dermawan itu datang menghadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Wahai Rasulullah, pohon kurma itu telah menjadi milikku, kini aku menyerahkannya kepadamu," katanya.
Kemudian, Nabi bersama lelaki dermawan itu datang kepada keluarga miskin itu.
"Ambillah pohon kurma itu untukmu dan keluargamu," kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Saat itu turunlah wahyu dari Allah sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Lail ayat 5-11 yang menceritakan kedudukan orang dermawan dan orang kikir serta balasannya. Allah akan mengganti apa yang diberikan oleh seseorang, dengan barang yang serupa yang berlipat ganda di akhirat. Sayang lelaki kikir itu enggan menerimanya.

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Cerita Inspiratif: Pohon Korma Milik Tetangga



Al-Waqidy bercerita, "Suatu saat saya berada dalam himpitan ekonomi yang begitu keras. Hingga tiba bulan Ramadhan, saya tidak punya uang sedikit pun. Saya bingung, lalu saya menulis surat kepada teman saya yang seorang alawy (keturunan 'Ali bin Abi Thalib). Saya memintanya meminjamkan saya uang sebesar seribu dirham. Dia pun mengirimkan uang itu kepada saya dalam sebuah kantong yang tertutup. Kantong itu lalu saya taruh di rumah.... Malam harinya saya menerima sepucuk surat dari teman saya yang lain. Dia meminta saya meminjamkan uang seribu dirham kepadanya untuk kebutuhan bulan puasa. Tanpa pikir panjang, saya kirim kantong berisi seribu dirham itu kepadanya dalam keadaan masih tertutup tanpa pernah saya buka.

Besok harinya, saya kedatangan teman yang saya kirimi uang, juga teman alawy yang meminjamkan saya uang. Yang alawy itu menanyakan kepada saya perihal uang seribu dirham itu. Saya jawab, bahwa saya telah mengeluarkannya untuk suatu keperluan. Tiba-tiba ia mengeluarkan kantong itu sambil tertawa dan berkata, "Demi Allah, bulan Ramadhan sudah dekat, saya tidak punya apa-apa lagi kecuali seribu dirham ini. Setelah engkau menulis surat kepada saya, saya kirim uang ini padamu. Sementara itu saya juga mengirim surat kepada teman kita yang satu ini untuk pinjam uang. Lalu ia mengirimkan kantong ini kepada saya. Saya pun kemudian bertanya, bagaimana ceritanya hingga bisa begini? Dia pun menceritakannya kepada saya. Lalu sekarang kami datang ke sini untuk membagi uang ini bertiga. Semoga Allah akan memberikan kelapangan kepada kita semua."

Al-Waqidy berkata, "Saya berkata pada kedua teman itu, 'Saya tidak tahu siapa di antara kita yang lebih dermawan dari yang lainnya." Kemudian kami membagi uang itu untuk bertiga. Bulan Ramadhan pun tiba dan saya telah membelanjakan sebagian besar hasil pembagian itu. Akhirnya perasaan gundah datang lagi. Saya pikir, bagaimana ini?

Tiba-tiba datanglah utusan Yahya bin Khalid al-Barmaki di pagi hari meminta saya untuk menemuinya. Ketika saya menemui Yahya al-Barmaki, dia berkata, "Hai al-Waqidy! Tadi malam aku bermimpi melihatmu, kondisimu saat itu sangat memprihatinkan. Coba jelaskan ada apa denganmu?"

Maka, saya menjelaskan keadaan saya sampai pada kisah tentang teman saya yang alawy, teman yang satu lagi serta uang yang seribu dirham. Lalu dia berkomentar, "Aku tidak tahu siapa di antara kalian yang lebih dermawan." Selanjutnya, dia memerintahkan agar saya diberi uang tiga puluh ribu dirham, dan dua puluh ribu dirham untuk kedua teman saya. Dan dia meminta saya untuk menjadi qadhi."

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

cerita islami: Siapa yang Paling Dermawan?


Lukman Hakim memerintahkan anaknya mengambil seekor keledai. Sang anak memenuhinya dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai.

Keduanya berjalan melewati kerumunan orang banyak. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring di atas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian, Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, "Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian, Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, "Betapa kejam kedua orang itu, mereka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Akhirnya, Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntunnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraca berkata, "Subhanallah... seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? sementara kedua orang itu berjalan menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menaikinya." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.

Kemudian, Lukman menasihati anaknya: "Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu."

Sumber: Didaptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Cerita Hikmah: Lukman Hakim dan Keledai


Suatu hari malaikat Izrail, malaikat pencabut nyawa, memberi tahu Nabi Daud a.s., bahwa si Fulan tinggal enam hari lagi akan dicabut nyawanya.

Jam berganti jam, hari berganti hari. Lewatlah deadline yang disampaikan oleh Izrail tentang si Fulan itu, tetapi nyatanya si Fulan itu masih tetap saja hidup terus. Maka, bertanyalah Nabi Daud kepada Izrail perihal kejadian ini.

"Mengapa si Fulan masih saja hidup terus, padahal engkau katakan beberapa hari yang lalu umurnya tinggal enam hari lagi, ya Izrail? Sekarang enam hari sudah berlalu sejak kau mengatakannya padaku, gerangan apakah ini?

Izrail memberi penjelasan kepada Nabi Daud. "Sebetulnya, aku sudah akan mencabut nyawanya tepat di hari yang aku katakan padamu itu. Tetapi, kemudian Allah memerintahkan kepadaku agar menunda dulu hal itu."

"Mengapa demikian, ya Izrail?"

"Sejak hal itu aku katakan kepadamu, si Fulan tampak rajin menyumbang tali persaudaraan dengan sesama saudaranya yang sudah putus. Karena itu, Allah memberi tambahan umur selama 20 tahun kepadanya."

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Cerita Islami: Silaturahmi Memperpanjang Umur

Asiyah, Istri Firaun yang Beriman



Suatu ketika Nabi Musa a.s. berhasil mengalahkan para tukang sihir Firaun. Asiyah, yang turut menyaksikan kesuksesan Musa, bertambah tebal imannya. Sebenarnya, telah lama Asiyah beriman kepada Allah SWT, tetapi hal ini tidak diketahui suaminya.

Lama-lama Firaun mengetahui juga akan keimanan Asiyah itu. Firaun murka dan menjatuhkan hukuman kepadanya. Para algojo diperintahkan Firaun untuk segera melakukan penyiksaan kepada Asiyah, yang olehnya dianggap murtad itu.

Tubuh Asiyah ditelantangkan di atas tanah di bawah terik sinar matahari. Kedua tangannya diikat kuat ke tiang-tiang yang dipatok ke tanah agar ia tak dapat bergerak-gerak. Wajahnya yang telanjang di hadapankan langsung ke arah datangnya sinar matahari. Asiyah pastilah tidak akan tahan akan sengatan panas matahari, dan akhirnya ia akan mengubah keimanannya kepadaku, demikian pikir Firaun.

Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata Tuhan tidak membiarkan hambanya menderita akibat kekafiran Firaun. Setiap kali para algojo meninggalkan Asiyah dalam hukumannya, segera malaikat menutup sinar matahari itu, sehingga langit menjadi teduh dan Asiyah tak merasakan sengatan matahari yang ganas itu.

Asiyah tetap segar-bugar meskipun sudah dihukum berat. Hal ini membuat Firaun memerintahkan hukuman lain yang lebih berat. Ia memerintahkan agar kepada tubuh Asiyah yang telentang itu dijatuhi batu besar. Tubuhnya pasti remuk, pikir Firaun.

Ketika Asiyah melihat bahwa ada batu besar yang hendak dijatuhkan ke tubuhnya, berdoalah dia kepada Tuhan. "Wahai Allah, Tuhanku! Bangunkah untukku di sisimu sebuah gedung di surga." (At-Taubah: 11).

Segera Allah memperlihatkan sebuah bangunan gedung di surga yang terbuat dari marmer berkilauan. Asiyah sangat gembira, lalu rohnya keluar meninggalkan tubuhnya. Asiyah tidak merasakan kesakitan apa pun, karena ketika batu besar itu menimpa tubuhnya, rohnya sudah tidak ada di sana.

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia


Cerita islami: Asiyah, Istri Firaun yang Beriman

Jumat, 12 September 2014

Karena Luka Sejarah 


Zaid bin Islam bertutur kepada Ibnu Jarir bahwa Syasy bin Qais, seorang pemuka Arab yang paling gencar memusuhi umat Islam, melewati sebuah pertemuan sahabat Nabi yang dihadiri oleh bani Aus dan Khazraj. Melihat mereka tampak akrab, rukun, penuh persaudaraan dan kedamaian, hati Syasy dongkol. Dengan penuh kebencian, ia berbisik kepada pemuda Yahudi yang ikut dengannya.

"Tokoh-tokoh bani Khazraj dan Aus kini telah bersatu di negeri ini. Demi Allah, walaupun mereka bersatu, saya tidak akan pernah bersama mereka."

Kemudian, ia menyuruh pemuda itu mengikuti pertemuan dan mengungkit-ungkit kembali "Hari Buats", hari kemenangan Khazraj atas Aus dalam suatu peperangan yang amat bersejarah dan meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi kedua belah pihak.

Syasy juga memerintahkan pemuda itu menyanyikan lagu-lagu permusuhan yang sudah biasa dinyanyikan oleh bani Khazraj dan Aus untuk mengenang hari pahit itu.

Tipu muslihat Syasy berhasil menyulut luka sejarah permusuhan lama yang pernah terjadi di zaman jahiliah. kedua bani itu mulai bersitegang. masing-masing membanggakan baninya dan mengejek bani lainnya. Aus bin Qadhi (dari bani Aus) dan Jabbar Sakhar (dari Khazraj) maju ke depan pertemuan. Setelah saling berbantahan, keduanya mengajak perang tanding ulang. Serentak masing-masing bani menyusun dan mengumpulkan kekuatan siap berperang kembali.

Mendengar berita itu, Rasulullah langsung menjumpai mereka bersama kaum Muhajirin. "Ya, Allah; ya, Allah!" seru Nabi. "Wahai kaum muslimin, apakah kamu sekalian akan tetap dengan kebiasaan-kebiasaan jahiliah, padahal saya masih ada di tengah-tengah kalian. Bukankah Allah telah memuliakan kalian, memisahkan kalian dari tradisi-tradisi jahiliah, dan melunakkan hati kalian. Apakah kalian akan kembali kepada kekufuran yang lama?"

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka

Al-Islam - Pusat Informasi dan komunikasi Islam Indonesia


Cerita Pendek: Karena Luka Sejarah

Bicara dengan Hati, Allah Tetap Mengetahui 


Pada suatu hari Rasulullah mendapat berita yang mengagetkan tentang salah seorang sahabatnya. "Ia sedang mengalami sakaratul maut. Sudah kami talkin agar menyebut nama Allah, tetapi lidahnya bagai terkunci," demikian tutur si pembawa kabar.

Rasulullah bergegas menuju ke rumah sahabatnya itu. Sebab, ia seorang mukmin yang beriman, pejuang yang ikhlas, dan dermawan yang tekun beribadah. Ia harus diselamatkan.

"Sahabatku, katakanlah la ilaha illallah," ujar Nabi. Tetapi, orang itu hanya membisu saja.
Katakanlah illallah," desak Nabi. Masih juga orang itu memandang kosong.
"Katakanlah Allah," Nabi berbisik kembali. Orang itu tetap bengong. Lalu, menghembuskan napas penghabisan.

Para sahabat menjerit kecil. Mereka sangat sedih menyaksikan rekan setia itu mengakhiri hidup di dunianya tanpa mampu melafalkan kalimat tauhid. Namun, anehnya Nabi malah tersenyum ceria dan wajahnya bersinar cerah. Tentu saja para sahabat keheranan. Di antara mereka, ada yang tidak tahan untuk segera melontarkan pertanyaan.

"Wahai kekasih Allah, alangkah menyakitkan sikapmu. Kami semua cemas memikirkan nasib malang yang menimpa rekan kami itu di akhirat kelak, mengapa engkau justru kelihatan gembira?"

Nabi, masih bersinar-sinar menjawab. "Tidakkah kalian lihat menjelang ajalnya, ia menatap ke atas sekilas? Ia menghadap Allah dengan isyarat mata. Ia tidak mampu bertobat dengan lidahnya. Tetapi, ia memohon ampun dengan hatinya. Aku senang sekali, karena Allah berfirman kepadaku bahwa kedatangannya diterima dalam rida-Nya."

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Poliyama Widya Pustaka

Al-Islam - Pusat Informasi dan komunikasi Islam Indonesia

Cerita Islami: Bicara dengan Hati, Allah Tetap Mengetahui

Salat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar 



Ada seorang laki-laki yang merayu-rayu seorang wanita agar mau melakukan zina dengannya. Segala jurus tipu daya ia lakukan untuk meruntuhkan keteguhan iman sang wanita. Memang, laki-laki itu ganteng sekali. Tambah lagi, ia sangat kaya di kampungnya. Tentu saja tidak sedikit wanita yang menaruh hati kepadanya. Bagaimana dengan wanita yang dirayu-rayunya itu?

Wanita tersebut sebetulnya sudah bersuami. Ia adalah seorang istri yang taat kepada suaminya. Suaminya sendiri adalah orang yang taat pula. Perihal rayuan laki-laki itu, ia adukan kepada suaminya.

"Mas, laki-laki kaya yang tinggal di sebelah sana itu sering kali menggoda aku. Ia tinggal masih sekampung dengan kita. Tiap kali ia berpapasan denganku, atau kebetulan saja bertemu dengannya, pasti ia merayu aku agar mau berbuat zina dengannya. Ia terus-terusan melakukan itu kepadaku. Apa yang harus aku perbuat?"

Sang suami menaggapi istrinya dengan tenang-tenang saja.

"Katakan kepadaku laki-laki itu bahwa kamu akan mau menuruti godaannya, yaitu berzina dengannya. Hanya saja, ia harus memenuhi satu syarat."

Dengan patuh istrinya mendengarkan terus apa yang dikatakan suaminya. Setelah itu pergilah ia menemui laki-laki yang sering mengganggunya itu.

Begitu mengetahui si wanita yang selalu diincarnya datang mencarinya, bukan main gembiranya si laki-laki yang biasa menggoda itu. Akhirnya kesampaian juga apa yang selama ini menjadi keinginanku kepada wanita yang cantik ini. Dengan tidak sabar, ia menantikan apa yang akan dikatakan sang wanita.

"Aku akan mau berbuat zina denganmu, sebagaimana yang selalu engkau katakana kepadaku dalam rayuan-rayuanmu selama ini!"

Mendengar kesediaan wanita itu, si laki-laki langsung berseri-seri wajahnya. Pikirnya, apa pun yang dikehendaki wanita ini akan kupenuhi, asalkan ia mau berhubungan seks denganku. Sungguh aku tak tahan melihat kecantikan dan keelokan tubuhnya yang aduhai.

"Apa pun akan kupenuhi demi kamu. Seandainya engkau mempunyai permintaan, katakana. Apakah kamu butuh uang, atau apa saja. Pendeknya, aku akan penuhi apa saja yang kamu inginkan dariku."

"Baiklah, aku tidak meminta uang atau materi apa pun. Permintaanku sederhana dan mudah saja."

Dengan tidak sabar yang terbaca dari air mukanya, laki-laki itu terus mendesak si wanita agar ia mengutarakan persyaratan yang ia kehendaki.

"Ayo, katakana saja apa itu. Aku pasti akan memenuhinya untukmu, sayangku."

"Sebelum kita sama-sama melakukan perbuatan itu, aku minta agar kamu mau melakukan salat berjamaah dengan suamiku. Tidak banyak, hanya empat puluh subuh saja secara terus-menerus, tidak boleh utus!"

Mengetahui hanya itu permintaan si wanita, maka dengan bersemangat si laki-laki menyatakan kesanggupannya.

Mulai sejak ia berjanji, salat subuhlah ia bersama suami wanita itu. Ia melakukannya dengan tekun, hari demi hari, hingga akhirnya ia berhasil tidak putus satu hari pun.

Pergilah si wanita itu menemui si laki-laki tersebut. Setelah bertemu, si wanita itu merayu kepada si laku-laku yang telah selesai salat berjamaah salat subuh empat puluh kali. Wanita itu memenuhi janjinya karena si laki-laki itu berhasil melaksanakan permintaannya.

Si laki-laki itu menjawab, "Aku kini sudah bertobat kepada Allah, wahai perempuan! Aku tidak mau melakukan perbuatan terkutuk seperti itu!"

Mendengar cerita sang istri mengenai jawaban si laki-laki yang tempo hari menggodanya, sang suami wanita memanjatkan pujian kepada Allah SWT, "Maha benar Allah! Firman-Nya adalh benar, bahwa salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar."

Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah, Tim Poliyama Widya Pustaka

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Cerita Islami: Salat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar

 
SKI SMAN 1 Kertosono © 2015 - Designed by Templateism.com